Aku merapatkan jaket coklat yang membalut badanku. Pagi itu udara masih terasa sangat dingin, kabut tebal mengganggu jatuhnya sinaran mentari yang pasti kan mampu sedikit hangatkan badan, ditambah dengan rintik-rintik hujan yang perlahan turun hingga buatku kedinginan. Warna jingga yang biasanya hiasi lazuardi timur, kini tiada berupa. Selain gumpalan awan berabu-abu yang menutupi sepanjang langit yang hanya mampu ku pandang sejauh mata. Aku di bawah pondok pangkalan ojek dari kayu dengan atap yang mempunyai beberapa lubang, aku duduk di sebuah bangku panjang menumpang beberapa saat menunggu hujan.
Ku torehkan mataku ke kiri melihat jam di dinding pangkalan ojek. Jarum panjang di angka 5, dan jarum pendek di angka 2. Lalu ku berpindah menoleh ke kanan menuju keranjang di sebelahku. Masih ada lima botol berisi susu di sana. Kalau tak segera diberikan pada pelanggan, bisa-bisa susu-susu itu basi. Ku putuskan menerobos hujan yang sesekali diiringi beberapa suara menakutkan dari langit. Petir yang menakutkan. Aku bergidik, namun melanjutkan pelarianku. Meskipun tanpa payung, ku tetap menerjang hamparan hujan yang menerpa badan, buatku kegigilan, dan basah. Jaket yang seharusnya bisa menghangatkanku kini benar-benar basah oleh air hujan. Sandal jepit merah licinku buatku kurang cekatan berlari di bawah hujan, karena hampir sering ku terpeleset saat melangkah di jalan licin. Dan ini lah yang paling ku khawatirkan. Satu-satunya rok seragam merahku basah. Aku menyesal memakainya tadi.
***
Aku berjalan perlahan, hujan sudah mulai reda. Matahari sudah mulai menampakkan keberanian sinarnya. Keranjangku sudah kosong, itu artinya aku sudah menyelesaikan satu tugasku. Aku terus melanjutkan langkahku menuju rumah kontrakkan yang berukuran sekitar 4 x 6 meter. Berdinding warna putih dengan hiasan coretan-coretan spidol. Atap berandanya berlubang, yang setiap hujan pasti bocor. Beberapa pot mini berisi tanaman mawar ada berjejer di muka rumah. Setidaknya cukup bisa menyejukkan mata di antara kebobrokan rumah itu. Aku masuk ke rumah itu.
“Assalamu’alaikum...” ucapku.
“Wa’alaikum salam...” terdengar jawaban dari arah dapur. Aku menuju dapur. Ku dapati seorang ibu-ibu berumur 30-an, dengan perutnya yang buncit menggoreng pisang dan gorengan lain. Baju daster yang membalut tubuhnya begitu kucel. Rambut bergelombangnya dikuncir satu di belakang.
“Udah pulang Vin? Sarapan dulu nak, tuh Ibu buatin nasi goreng. Setelah itu berangkat sekolah. Udah jam enam loh. Nanti kamu bisa terlambat.” Katanya menyadarkan lamunanku. Ya, beliau adalah Ibuku. Tapi, aku takut melihat rokku yang basah. Bagaimana bisa aku ke sekolah dengan rok basah seperti ini?
“Bu, rokku basah. Tadi abis kehujanan.” Aku menundukkan wajahku. Aku takut Ibu marah.
“Ya sudah, kamu mandi dulu gih. Biar roknya Ibu yang urus.” Ucapnya sambil memberi sepotong senyum yang indah sekali, kurasa.
Senyum itulah yang mampu sejukkan ku, dan buatku bertahan hingga kini di dalam panasnya dunia. Aku membalas senyum dari Ibu. Aku ke kamar mengambil handuk dan peralatan mandiku. Memberikan rokku yang basah kepada Ibu. Dan segera ke pemandian umum di sebelah rumah. Beruntung pemandian umum itu tak ramai seperti biasanya. Jadi aku bisa secepat mungkin menyelesaikan mandiku.
***
Aku kembali ke rumah. Mendapati Ibu memanggang rokku di atas kompor.
“Cepat makan dulu Vin.” Ibu menoleh ke arahku sambil membawa rokku. Ibu ke kamar mengambil setrika, dan aku sarapan. Dengan penuh kesabaran menyeterika rokku.
Sesaat setelah rokku licin Ibu menyodorkannya kepadaku. Licin, meski pun rok itu belum sepenuhnya kering. Masih terasa agak basah. Namun, tetap aku pakai. Setelah rok selesai ku pakai, dan sarapan yang Ibu buat telah berpindah ke dalam perutku, aku menyalami Ibu, hendak berpamitan.
Aku menemukan Ibu di kamar. Aku kembali melamun. Itu lah Ibu, seorang wanita pekerja keras, lembut, dan penuh kasih sayang. Bapakku sendiri sebenarnya orang yang baik. Hanya saja kecelakaan beruntun 3 bulan yang lalu telah membawa Bapak kembali pada Allah. Meninggalkan aku, Ibu, dan calon adik bayiku yang masih berusia 5 bulan di dalam perut Ibu. Bapak adalah seorang supir angkot. Kerja kerasnya, semangatnya, menjadikannya sumber inspirasiku. Sejak kematian Bapak lah aku mulai mengantarkan susu untuk pelanggan. Selain itu setelah pulang sekolah pun aku membantu Ibu jualan gado-gado. Aku berjalan masuk menuju kamarku di tempat Ibu duduk.
“Bu...” sapaku.
“Apa Vin?” tanya Ibu. Ku lihat ia sedang melipat baju-baju kecil, popok bayi, dan segala hal untuk bayi. “Bantuin Ibu Vin...”
Aku duduk di samping tempat tidur di sebelah Ibu. Aku membantunya melipati popok-popok bekas.
“Kamu tau gak Vin? Ini kan baju kamu pas bayi dulu. Ini baju buat adek kamu Vin.” Kata Ibu sambil terus melipati baju-baju dan di masukkan ke keranjang.
“Kenapa gak beli yang baru sih Bu? Ini udah kucel, bau kayak orang tua lagi. Hehe...” kataku sambil mencium baju itu.
“Vin... kalau ada baju yang lama, ngapain beli lagi? Selama bajunya masih layak pakai. Lagian, beli barang-barang gitu kan gag murah. Ibu juga perlu uangnya lebih baik buat ke dokter saat melahirkan nanti. Aku terdiam. Benar juga kata-kata Ibu. Di zaman sekarang ini, tak ada yang gratis. Apalagi pada saat ketiadaan Bapak. Kapan ya, aku bisa buat mereka bahagia? Setidaknya aku bisa membelikan si calon adikku beberapa helai baju baru, yang lucu, seperti anak-anak artis yang terkadang ikut masuk infotainment karena bajunya yang unik, lucu, dan bagus. Tak perlu mahal, asal bisa membuat calon adikku kelak lebih lucu. Aku terus berpikir.
***
Pagi ini cuaca sudah agak cerah dibanding tadi saat aku mengantar susu ke pelanggan. Meski pun mentari tak bersinar penuh, namun cahayanya mampu sedikit pudarkan kabut pagi.
Aku memasuki sekolahku. Sebuah sekolah kecil, tiangnya yang terbuat dari kayu rapuh, atap gentengnya berlubang, sehingga air bekas turunan hujan masih sesekali menetes dari lubang genteng, dinding yang bercat pudar, hingga tak jelas itu warna apa dan berlubang, lantai masih berupa tanah, becek gara-gara hujan tadi pagi, serta bangku dan meja yang sudah cukup rapuh termakan usia. Itu lah SD satu atap di desaku tempatku belajar. Terkadang aku bertanya-tanya. Ketika aku di ajak almarhum Bapak berkeliling kota dengan angkotnya saat mendapat carteran ke tengah kota. Aku melihat sekeliling, sekolah-sekolah di sana tak ada yang sebobrok sekolahku. Sekolah itu mewah, dari luar pun sangat terlihat nyaman di tempati. Sungguh berbeda 180 derajat dengan sekolahku.
Aku sempat berpikir tentang ketidak adilan ini, ketidak merataan, dan perbedaan perhatian pemerintah, atau siapa pun. Yang jelas aku sama sekali tidak mengerti bagaimana cara pemerintah berpikir dan bertindak untuk bisa seadil mungkin. Tapi apalah daya. Aku tak tahu apa-apa, aku hanya manusia awam yang papah dalam kehidupan ini. Untuk meneruskan SMP pun, aku masih abu-abu. Entah bisa atau tidak. Tujuanku kini hanyalah belajar sebisa mungkin dan bisa bahagiakan Bapak di alam sana, Ibu, dan calon adikku kelak. Sekolah yang bagus bukanlah jadi masalah, yang penting adalah semangat tak kenal menyerahku untuk menggapai cita.
Akulah manusia...
Punya sejuta mimpi yang menunggu tuk ku gapai...
Akulah manusia...
Inginkan beribu cita tuk ku capai...
***
Aku berjalan menyusuri bangku di kelasku. Ku lihat dua gadis kecil sedang berbicara dengan asyik sendiri dan wajah berseri. Itu lah sahabat terbaikku. Yang gendut itu bernama Dina, dan yang tomboy, berambut dengan potongan milik seorang penyanyi cowok yang aku lihat di TV menyanyikan lagu Baby. Entahlah, apa itu Justin Biber, Fiber atau apalah. Yang jelas dia punya sejarah dengan potongan rambut itu. Dia di gunduli 1 tahun lalu gara-gara berkutu.
“Vin, Vina... Duduk sini deh.” Kata Rika menarik lenganku dan memberiku tempat duduk di bangku di sebelahnya.
“Vin, besok kita bolos yuk.” Kata Dina tiba-tiba didukung dengan anggukan cepat dari Rika. Aku terkejut.
“Apa? Bolos? Kalian aneh-aneh aja tau gak? Kita udah kelas enam. Bentar lagi kita UAS loh. Aku gag mau ikutan ahh.” Tolakku.
“Dengerin dulu Vin. Besok pagi, Pak Haji Somad mau adakan acara sedekahan buat orang-orang miskin.” Jelas Rika.
“Ya udah, Terus kenapa?” tanyaku bingung.
“Vina sayang... Kita itu... Orang miskin.” Kata Dina sambil mencubit pipiku gemas. Sakit. “Kita kesana yuk Vin. Besok Rika juga ikut kok. Rika kan tetangganya Pak Haji Somad. Rika udah dapet 3 kupon. 1 buat aku, 1 buat Rika, 1 buat kamu Vin. Pas kan?”ajak Dina memprovokasiku.
“Iya Vin, Rp 50.000,- loh. Bisa buat beli buku, sepatu, tas, baju, atau apa aja deh. Kan bantu orang tua kita juga Vin. Iya gak Din?” ucap Rika semakin meyakinkanku, diiringi dengan anggukkan cepat dari Dina. Aku tergoda. Benar juga nih. Kalo aku dapat uang, aku bisa belikan calon adik baju baru yang lucu dong.
“Hmm... Oke deh Ka, Din... Aku ikut...” kataku setengah berteriak. Mereka hanya tersenyum.
***
Keesokan harinya aku putuskan untuk ke rumah Pak Haji Somad. Setelah aku mengantarkan susu ke pelanggan, aku sengaja memakai seragam. Karena jika Ibu tahu aku ke rumah Pak Hajai Somad, Ibu pasti akan marah padaku. Karena, menurut Ibu, meski pun kita miskin, bukan berarti kita pengemis.
“Kok tumben udah berangkat Vin?” kata Ibu di depan pintu kamarku. “Baru jam 6 loh.”
“Hmm... ada les tambahan Bu, kan aku udah kelas 6. 3 bulan lagi kan UAS.” Kataku berbohong. Ya Allah, aku membohongi Ibu. Aku menggigit bibirku sendiri, aku menyesal dengan kebohonganku tadi. Namun aku menepis semua rasa sesal dan gundah di hati. Lalu aku secepatnya berpamitan dengan Ibu.
“Hati-hati ya Vin. Perasaan Ibu gak enak banget hari ini.” Kata Ibu.
“Iya Bu.” Jawabku. “ Assalamu’alaikum.” Ucapku sambil mencium tangan Ibu.
“Wa’alaikumsalam.” Jawab Ibu. Tak biasanya Ibu secemas ini padaku. Aku semakin gundah. Ya Allah... maafkan aku. tak seharusnya aku membohongi Ibu, satu-satunya orang yang paling ku sayang saat ini. Tapi, tolakkan kecil dari otakku seakan bicara padaku. Udah lah Vin, lagian uang itu kan buat calon adik kamu, dan otomatis bisa bantu Ibu kamu. Dan sayangnya aku menuruti saja apa kata otakku.
***
Aku sengaja berlari secepat mungkin, agar setidaknya aku bisa mendapat uang itu dengan cepat. Sesampainya di rumah Pak Haji Somad, aku terkejut. Tak ku sangka akan seramai ini. Ratusan manusia tumpah berdesak-desakkan di muka halaman rumah Pak Haji Somad yang seluas lapangan voli tersebut. Aku masih di luar pagar, aku menunggu kedatangan Rika dan Dina.
5 menit kemudian mereka datang. Dengan nafas terburu-buru Rika mengambil kupon dari tasnya.
“Nih, kupon buat kamu Vin.” Kata Rika sambil memberikan kupon padaku.
“ Cepetan yuk. Kita menyelinap.” Ajak Dina.
Aku cukup was-was juga untuk mulai masuk di kerumunan itu. Namun, desakkan itu membawaku ke tengah kerumunan, dan akhirnya aku terpisah dengan Rika dan Dina. Aku terhimpit. Di sebelahku ku lihat seorang ibu meringis menahan sakit sambil melindungi bayinya yang baru beberapa bulan dalam gendongan.
Sudah sekitar 2 jam aku disini, terjebak di dalam kerumunan manusia. Matahari kian menyengat. Sungguh aku tak percaya, bukan aku saja yang membutuhkan uang. Tapi ratusan, tidak. Mungkin ribuan orang disini juga sama denganku. Bahkan tadi aku sempat ternganga melihat seorang ibu mengumpulkan setengah lusin anaknya yang rata-rata masih berusia 10 tahunan, sambil memberi pengarahan seperti seorang guru di depan kelas.
“Ingat, kalian tidak boleh berpisah. Kalian mau uang buat beli buku kan?” wajah-wajah lusuh itu hanya mengangguk.
Dua jam kemudian aku sampai di antrian. Dan aku sudah mendapatkan uang Rp 50.000,- itu. Alhamdulillah... aku menyimpannya di saku seragamku. Saking senangnya aku, aku salah melewati jalur yang semestinya. Aku kembali di kerumunan orang-orang yang tak mau mengalah ini. Hingga tiba-tiba...
“Hei!!! Ini tempatku. Minggir kamu.” Hardik seorang Ibu tua kepada wanita yang lebih muda di depannya.
“Enak saja. Situ yang mundur. Itu tempatku tadi.” Balas wanita itu.
Kedua wanita itu saling adu mulut dan saling menjambak rambut. Tiba-tiba seperti gelombang ombak, kerumunan orang di depan wanita itu terdorong ke depan sehingga ada yang terhantam pagar Pak Haji Somad. Orang-orang menerit kesakitan. Seorang nenek tua jatuh tersungkur di tengah kerumunan. Ia menjerit dengan suara seraknya sekuatnya. Namun tiada yang pedulikan ia. Aku hendak menolong. Namun yang terjadi justru lebih buruk. Orang-orang di belakangku mendorongku keras-keras. Sejumlah orang tersungkur ke tanah. Begitu pula aku. Suara nafas tercekik terdengar dimana-mana. Aku megap-megap, berusaha bertahan. Aku melihat seorang Ibu yang menggendong anaknya tadi juga tersungkur ke tanah. Bayinya menangis ketakutan. Mereka nyaris terinjak-injak. Saat aku mencoba bangkit dan hendak menolong Ibu itu, aku merasakan berat sekali. Terutama di bagian punggungku. Sakit sekali, aku aku merasakan seluruh badanku diinjak-injak orang, kepalaku juga. Tanpa sadar aku menjerit histeris.
“ALLAHU’AKBAR....” teriakku. Sebelum akhirnya ku rasakan puncak rasa sakit itu, hingga akhirnya semua menjadi gelap.
***
Suara riuh rendah, jeritan serta tangisan itu memenuhi telingaku, membuatku terbangun, dan kaget. Aku masih melihat tubuhku terbaring di sana. Di depan gerbang halaman rumah Pak haji Somad yang masih banyak orang berkerumun meminta uang. Namun, tubuhku ringan sekali, hatiku tenang.
“Vina sayang...” sotak aku mencari asal suara tersebut. Aku menoleh. Benar saja. Aku melihat seorang bapak-bapak yang sangat ku rindukan yang pernah meninggalkanku dan Ibu 3 tahun lalu. Ya, itu Bapak. Aku berlari dan menghambur ke pelukan Bapak, menumpahkan rinduku 3 bulan ini.
“Kok bapak ada di sini? Bukannya bapak udah...”
Bapak menempelkan telunjuknya di bibirku, menyuruhku diam. Lalu ia menunjuk sesuatu di samping kami.
“Vina...” gadis gendut itu menggoyang-goyangkan badanku. Dina menangis tiada henti. Lalu tak lama Rika datang membawa seorang ibu dengan perutnya yang besar. Lalu ku lihat Ibu duduk bersimpuh di sebelah tubuh yang lemah tak berdaya, yang telah terbujur kaku dengan linangan air mata. Itu tubuhku. Aku menjerit! Lalu... aku ini apa? Ku dekati Ibu dengan bingung. Di depan pagar halaman rumah Pak Haji somad tergeletak puluhan mayat. Tangisan keluarga semakin menambah pilu kematian mereka. Perlahan aku mengeti apa yang terjadi.
“Vina, kamu masih kecil nak. Tak pantas kau korbankan nyawamu untuk lima puluh ribu rupiah. Hanya untuk membeli baju baru untuk calon adikmu.” Kata bapak.
Ibu meraung, lalu Rika mengambil selembar kertas berwarna biru, bertuliskan nominal Rp 50.000,-. Dan dia menyerahkannya pada Ibu. Maafkan Vina bu. Vina tidak bisa memberitahu Ibu. Aku hanya ingin membelikan baju untuk calon adik.
Mobil ambulans dan beberapa unit mobil polisi datang. Satu persatu mayat dimasukkan ke ambulans. Dan saat itu ku lihat tubuhku diangkat petugas medis. Ibu hanya menatap pilu, ditemani Rika dan Dina yang memegangi Ibu. Ingin rasanya aku kembali padanya, berlari ke arahnya, memeluknya, lalu berbisik, “Ikhlaskan aku Bu.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar